Summary ODOP 6:143-153

Kaum Jahiliah yang Menetapkan Hukum tanpa Ayat dan Ilmu

144. dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Masih terkait dg ayat 138-139 sebelumnya, Allah kembali menyinggung kaum Jahiliyah yang menetapkan haram-halal hewan dengan hanya berdasarkan persangkaan mereka dan apa yang dikatakan oleh orangtua / nenek moyang mereka terdahulu.

Allah menegur kaum Jahiliah ini dengan menanyakan, apakah ada Allah menurunkan ayat-ayat mengenai ketentuan haramnya hewan yang mereka katakan. Kemudian dg teguran berikutnya, apakah mereka memiliki pengetahuan atas dasar apa mereka mengharamkan hewan tsb. Teguran ini diulangi kembali di ayat 144, “Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini (menurunkan ayat-ayatNya) bagimu” dan “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta thd Allah utk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?”

Hewan yang Haram Dimakan

145. Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Allah kemudian menerangkan apa yang sebenarnya diharamkan sesuai dg ketentuanNya (145):

  1. Bangkai, darah dan daging babi -> diharamkan krn sifatnya yang kotor
  2. Hewan yang disembelih atas nama selain Allah

Kita dibolehkan memakan yang haram ini dg syarat:

  1. Dalam kedaan terpaksa, bukan krn ingin, yang bila tidak makan akan mengancam keselamatan jiwa

  2. Kalau pun terpaksa memakannya, maka tidak melampaui batas, memakannya sekedar cukup untuk bertahan hidup saja

Allah menerangkan hal yang sama di ayat lain sbb:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Baqarah 2:173)

146. Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.

Ayat 146 menjelaskan pengharaman tambahan, khusus bagi kaum Yahudi, sbg sanksi atas kedurhakaan mereka (hewan berkuku dan lemak), sbgmn disebutkan di ayat lain:

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah (An Nisaa 4:160)

147. Maka jika mereka mendustakan kamu, katakanlah: "Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa."

Kemudian Allah menegaskan bhw rahmat karuniaNya sangatlah luas, masih jauh lebih banyak makanan yang halal dibandingkan yang diharamkan, sedangkan bagi yang memilih tetap ingkar diancam dg siksa yang pasti dan tidak dapat ditolak kedatangannya. (147).

148. Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

149. Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya."

150. Katakanlah: "Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini" Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka.

Ayat selanjutnya menjelaskan argumen kaum Jahiliah atas ingkarnya mereka. Dikatakan, kalau memang Allah Maha Kuasa, mengapa Dia tdk menjadikan saja mereka beriman, shg mereka tdk menjadi musyrik dan juga tdk mengharamkan tanpa dalil spt di ayat sebelumnya. Allah kemudian menerangkan, bhw argumen mereka ini dibuat2 dan tidak ada dasarnya (148). Hal ini karena datangnya hidayah Allah haruslah dimulai dari sikap melapangkan dada, membuka pikiran, dan meluruskan hati shg kemudian Allah menurunkan cahaya yang menerangi yang membimbing dia untuk mendalami lebih jauh hidayah petunjuk yang diterimanya hingga tumbuhlah ketaatan atas segala perintah dan larangan Allah SWT (refer ke bahasan ODOP 6:104-117 sebelumnya mengenai “Jika Allah menghendaki” ). Allah pasti memberi petunjuk kpd semua hambaNya yang memenuhi syarat sebabnya turun hidayah ini (149).

Beberapa Larangan dan Perintah Allah

151. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

152. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

Di ayat 151-152, Allah menjelaskan bbrp hal yang diharamkan dan diwajibkan sbg kontras atas hukum yang dibuat2 oleh kaum Jahiliah sebelumnya, yakni:

  • Jangan mempersekutukan Allah
  • Wajib berbuat baik kpd kedua orangtua
  • Jangan membunuh anak2 karena takut miskin, karena rezeki mereka sudah dijamin oleh Allah
  • Jangan mendekati perbuatan keji (dosa yang terkait dg nafsu seksual - spt zina) - baik terang2an maupun sembunyi2
  • Jangan membunuh siapa pun kecuali dg alasan yang diperbolehkan (spt dlm peperangan dan eksekusi hukum qishash/rajam)
  • Jangan menyalahgunakan harta anak yatim
  • Wajib menyempurnakan takaran dan timbangan
  • Wajib berlaku adil, walaupun thd kerabat saudara sendiri

153. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Ayat 153 menutup dg penegasan, bahwa larangan dan perintah yang disebut di atas itu lah jalan yang lurus, terang dan jelas dari Allah SWT. Kita diperintahkan mengikutinya agar kita menjadi orang yang bertakwa, yang tetap dalam ketaatan kpd Allah SWT.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Summary ODOP 6:133-142

Allah Maha Kaya dan Tidak Membutuhkan Apapun dari HambaNya

133. Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

134. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.

Ayat 133 menegaskan sifat Allah yang Maha Kaya, yang tdk membutuhkan keimanan hambaNya, tdk juga butuh hambaNya menaati risalahNya. Bagi Allah mudah saja menggantikan satu umat dengan umat yang lain. Dan ancaman siksa Allah pasti datang dan tdk ada cara apa pun yang dapat menolaknya (134).

Tema yang sama disebutkan juga di bbrp ayat lain sbb:

Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. (Faathir 35:15-17)

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian. (An Nisaa 4:133)

Di ayat lain bahkan diceritakan bgmn Allah telah memusnahkan umat2 terdahulu krn kezhaliman mereka dan menggantinya dengan umat lain.

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus 10:13-14)

135. Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.

Bagi mereka yang tetap memilih ingkar thd risalah Allah, maka dipersilahkan beramal sesuai dg keyakinannya, demikian juga kita beramal sesuai keimanan kita kpd Allah, sbgmana disebutkan juga di ayat lain:

Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kami pun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya kami pun menunggu (pula).” (Huud 11:121-122)

Di akhir ayat 135, ditegaskan biarlah nanti Allah yang menentukan siapa yang beruntung mendapat imbalan pahala atas amal2nya. Beruntungnya di sini dijelaskan di ayat2 lain bhw hanya amal orang yang beriman sajalah yang diperhitungkan di hari akhir, sedangkan amal orang yg tdk beriman (sebanyak apa pun) diibaratkan spt fatamorgana, akan sia-sia, hangus, beterbangan spt debu di akhirat (lihat pembahasan ODOP 3:116-132).

--

Tradisi Kaum Jahiliah yang Dianggap sbg Perintah Allah

136. Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka[508]. Amat buruklah ketetapan mereka itu.

137. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya[509]. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

138. Dan mereka mengatakan: "Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki", menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.

139. Dan mereka mengatakan: "Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami," dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

140. Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rizki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Ayat 136 dst menjelaskan bbrp contoh kebiasaan kaum Jahiliah Mekkah yang menetapkan hukum halal-haram berdasarkan dugaan mereka dan menyatakan bhw itu adalah perintah Allah. Sbg informasi, kaum Musyrik Mekkah saat itu mengakui adanya Allah sbg Tuhan, ttp juga mengakui bhw berhala2 lain pun sebagai Tuhan yang mendampingi Allah. Kebiasaan2 yang mereka nisbatkan seakan2 sbg perintah Allah adalah sbb:

  1. Kurban dalam bentuk hasil pertanian dan hewan yang menurut mereka bisa di-share, sebagian untuk Allah, dan sebagian lainnya untuk berhala2 yang lain. Dikatakan, bhw kurban mereka tsb akan tertolak (136)

  2. Membunuh anak2 dg cara menguburkannya hidup2, serta menganggap baik orangtua yang melaksanakannya (137). Mereka ini dikatakan merugi dan sesat krn mengharamkan karunia Allah kpd mereka (140). Tradisi ini diharamkan oleh Allah sbgmana disebut di dalam ayat berikut:

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Al Israa’ 17:31)

dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh (At Takwiir 81:8-9)

  1. Haramnya bbrp tanaman dan hewan ternak tertentu yang sebenarnya tdk pernah dilarang melalui ayat2 Allah (138, 139). Mengulang sedikit bahasan ayat 5:103, dalam tradisi Jahiliah dikenal 4 jenis hewan yang diharamkan (walaupun tanpa dasar ayat):

  2. bahiirah : unta yg sengaja dilubangi telinganya jika melahirkan 5 anak dg anak terakhirnya betina.

  3. saaibah : unta yg dilepaskan krn nazar pemiliknya utk berhala, diberikan kpd penjaga ka’bah, dibiarkan cari makan sesukanya, tdk ditunggangi, tdk disembelih dan tdk diperah susunya.
  4. washiilah : kambing atau unta perempuan yang lahir kembar. Kalau jantan diberikan kpd berhala.
  5. haam : unta jantan yg sdh menghamili 10 betina. Unta tsb tdk boleh ditunggangi dan dihalangi utk cari air dan makanan

  6. Dihalalkannya hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, dimana sbg gantinya mereka hanya menyebutkan nama2 berhala. Hal ini diharamkan Allah, sbgmana disebut di dlm surah Al An’aam ayat 118 (138)

Di ayat lain, Allah dengan tegas melarang kita mengharamkan yang halal, dan sebaliknya tanpa dasar ayat2-Nya:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (An Nahl 16:116)

Adab thd Karunia Allah

141. Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

142. Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Allah menjelaskan beberapa tanda2 kebesaran Allah sbg karunia-Nya kpd kita yang diiringi dg syarat perintah dan larangan atas nikmatNya tsb:

  1. Allah menumbuhkan kebun dan berbagai jenis pohon dg buahnya (spt kurma, zaitun, delima). Allah memerintahkan kita untuk memetik dan menikmati hasil kebun tersebut, tetapi dg 2 syarat: (1) menyisihkan sebagian hasilnya kpd yang berhak (sbg zakat); (2) menghindari berlebih-lebihan (141). Berlebih-lebihan ini menurut Al Baydawi dan Jalalayn adalah tdk berlebih2an dalam membagikannya kpd orang lain, minimum harus disisakan utk mencukupi kebutuhan diri sendiri dan 1 orang tanggungan. Sedangkan menurut Thabari, artinya menghindari ketamakan dlm memanfaatkannya (spt dg menjualnya) shg menghalangi kita untuk menyisihkan porsi wajib zakat.

  2. Allah menciptakan hewan ternak yang bisa dijadikan sbg alat transportasi dan ada juga yang bisa disembelih. Allah memerintahkan kita utk memanfaatkannya sbg rezeki dari Dia, tetapi dg syarat tdk mengikuti syetan, yakni tetap mengikuti ketentuan halal-haram yang ditetapkan Allah (142), spt dijelaskan di ayat lain:

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (An Nahl 16:114)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Al Baqarah 1-5

2: 1

الم

Alif laam miim.

Alif Laam Miim, adalah pembuka surat. Dijadikan ayat ini sebagai pembuka dengan tujuan menggugah perhatian pembacanya, agar benar-benar menyimak ayat yang dibaca setelahnya. Ayat ini masuk ke dalam kategori ayat mutasyabihat, dan kita cukup menerimanya sebagaimana yang Allah jelaskan sebagai berikut:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran 3:7)

Ayat di atas menjelaskan bagaimana Allah memerintahkan untuk beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat ini karena salah satu ciri mereka yang hatinya condong kepada kesesatan adalah gemar mengulik mencari-cari artinya.

2: 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

Allah memulai dengan pernyataan, bahwa Al Quran yang ada di hadapan kita ini bukan sembarang kitab. Bukan pula kitab yang berisi hipotesis dan asumsi. Melainkan, kitab yang integritasnya dijamin, keasliannya dijamin dan relevansinya dengan kehidupan kita dijamin.

Di penggalan ayat berikutnya, dijelaskan untuk apa semua jaminan itu, yakni untuk dijadikan sebagai “petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Di sini Allah menekankan bahwa peruntukan Al Quran ini adalah untuk mereka yang masuk dalam kategori Muttaqin, Orang yang Bertakwa. Siapa mereka dan definisinya seperti apa dijelaskan di ayat selanjutnya.

2: 3-4

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Orang bertakwa yang mana Al Quran diperuntukkan ini adalah mereka yang memiliki ciri-ciri (sebagian) sebagai berikut:

  1. Mereka beriman kepada yang ghaib
  2. Mereka mendirikan sholat
  3. Mereka menafkahkannya sebagian rezekinya
  4. Mereka beriman kepada kebenaran Al Quran dan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya kepada para rasul
  5. Mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat

Beriman kepada yang Tidak Tampak

Mengapa beriman kepada yang ghaib atau yang tidak tampak ini menjadi yang pertama, bahkan mendahului ciri mendirikan sholat? Tampaknya Allah ingin menjelaskan bahwa sikap hati untuk juga mempercayai yang tidak tampak (di samping keniscayaan percaya pada yang tampak lahiriahnya) adalah bekal pertama yang membuka jalan untuk dapat menjalani ciri orang bertakwa lainnya.

Manusia secara intuisi mudah percaya kepada segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh panca indera. Termasuk di dalamnya, tidak hanya ilmu alam yang berkaitan dengan fenomena alam, tetapi juga ilmu sosial dan ekonomi. Percaya bahwa siapa yang bekerja keras akan berhasil atau siapa yang cerdas berinvestasi akan kaya mendapatkan tempat yang sama tingginya dengan percaya bahwa kertas dibakar akan hangus, atau daun pada tanaman pagi hari akan menghasilkan oksigen.

Beriman yang tidak tampak di sini, Allah hendak menyampaikan pesan, bahwa di samping percaya kepada yang tampak, maka kita pun harus percaya bahwa ada hal-hal yang tidak tampak, yang tidak bisa diraba oleh panca indera, juga bahkan yang tidak bisa diterima oleh akal. Kita diminta menerima ketidakberhinggaan dan di saat yang sama diminta menerima dengan rendah hati akan keterbatasan kita untuk mengetahui dan memahami hal dan fenomena yang sifatnya ghaib kasat mata. Rasa menerima dengan rendah hati inilah yang harus dicamkan di dalam benak kita bila kita ingin mulai berjalan menuju derajat takwa.

Mendirikan Sholat

Ciri kedua setelah percaya kepada yang ghaib adalah mereka mendirikan sholat. Mengapa harus sholat? Sebab di dalam sholatlah kita melatih rasa rendah hati menerima keberadaan yang ghaib melalui gerakan-gerakan fisik. Sholat di sini seakan menjadi latihan fisik yang bertujuan melatih sikap hati untuk tidak hanya fokus kepada yang tampak tetapi juga kepada yang tidak tampak, termasuk hati kita dan keberadaan Allah SWT sebagai Pencipta.

Sholat diperintahkan wajib dikerjakan minimal lima kali sehari. Implisit di sini terkandung pesan bahwa ketertarikan kita akan hal yang bersifat materi akan sangat besar - dan terus bertambah besar seiring berjalannya waktu yang mendekati akhir zaman, sehingga diperlukan latihan fisik dan hati dalam bentuk sholat.

Kalau diperhatikan redaksi Al Quran mengenai sholat hampir selalu dalam bentuk mendirikan bukan mengerjakan. Maksudnya di sini adalah mereka yang mendirikan sholat, yang menunggu-nunggu waktu sholat agar jangan sampai tertinggal atau telat, sebenarnya mereka sudah menanamkan niat untuk mengerjakan sholat di dalam pikiran dan hatinya. Jadi sholat di sini, yang dipentingkan bukan hanya pada saat mengerjakannya, melainkan juga pada sikap hati untuk berjaga-jaga “mendirikan” sholat sesempurna mungkin.

Mendirikan sholat di tengah kesibukan sehari-hari dapat pula dilakukan dengan menjadikan waktu-waktu sholat sebagai tanda waktu bagi berpindahnya kita dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Sebagai contoh, Zuhur adalah waktu batas kita istirahat sekalian makan siang. Waktu maghrib adalah batas waktu meninggalkan kantor atau sekolah / tempat les. Waktu Isya adalah batas waktu kita sudah harus berada di rumah dan bersiap istirahat.

Menafkahkan Sebagian Rezeki

Setelah hati dilatih (iman kepada yang ghaib), dan fisik/pribadi dilatih (mendirikan sholat), maka ciri berikutnya adalah peka terhadap sesama dalam bentuk memberikan donasi. Menariknya di sini Al Quran tidak menggunakan kata ”harta milik kita“, melainkan ”sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka". Kalimat ini memiliki makna sebagai berikut:

  • Rezeki tidak terbatas pada harta. Menafkahkan sebagian rezeki berarti merelakan juga sebagian dari kelapangan atau kelebihan yang bersifat non-finansial, seperti kelapangan waktu kita, kecerdasan pikiran kita, kekuatan fisik kita, kesabaran hati kita bagi kepentingan sosial sesama kita.
  • Rezeki yang ada bukanlah milik kita, melainkan “yang Kami anugerahkan”. Jadi yang kita relakan ini pun sebenarnya bukan berasal dari kita, melainkan dari Allah SWT yang menurunkan ayat ini. Kita seperti kurir yang menyalurkan sebagian rezeki dalam bentuk berbagai kelapangan tadi kepada sesama di sekitar lingkungan kita

Kemudian kepada siapa rezeki ini dinafkahkan? Di ayat lain, dijelaskan siapa yang perlu diutamakan dalam menafkahkan rezeki ini:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (Al Baqarah 2:215)

Kalau melihat urutannya maka menarik diperhatikan bahwa ternyata rezeki ini kita nafkahkan dengan prioritas mengikuti tingkat kedekatan mereka dengan kita:

  1. Ibu, kemudian Bapak
  2. Kaum kerabat
  3. Anak yatim
  4. Orang miskin
  5. Orang yang dalam perjalanan

Di sini kita lihat keindahan prinsip Al Quran dalam Sistem Pengaman Sosial, dimana dijalankan dengan memprioritaskan hubungan darah dan orang yang dekat dengan kita. Perlu pula kita catat, bahwa ini tidak semata-mata hanya yang terkait dengan ekonomi (dimana rezeki tidak melulu soal harta), tetapi juga dalam bidang sosial lain seperti pendidikan, pengadaan rumah sederhana, sistem anak asuh dsb.

Beriman kepada Al Quran dan Kitab Sebelumnya

Allah bukan hanya memerintahkan untuk berpegang kepada Al Quran, tetapi juga meminta kita meng-acknowledge atas kitab lain yang diturunkan kepada para rasul sebelum Muhammad SAW. Al Quran menjelaskan kitab-kitab ini dalam ayat lainnya:

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ

Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, (Ali Imran 3:3)

مِن قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَأَنزَلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ

sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (Ali Imran 3:4)

Di jelaskan bahwa Allah menurunkan Taurat dan Injil sebelum Al Quran dan dipertegas larangan menolak dan mengingkari keberadaannya.

Menarik di sini adalah disebutnya Al Furqaan setelah Taurat dan Injil. Mungkin Al Furqaan di sini mengacu pada kitab lain yang diturunkan Allah pada umat lain namun hanya berbentuk lembaran-lembaran, tidak selengkap seperti bentuk tiga kitab sebelumnya yang utuh. Dinamakan Al Furqaan karena lembaran-lembaran itu memiliki kesamaan isinya yakni sebagai Al Furqaan - pembeda antara perilaku/akhlak yang benar dan salah, dan juga tuntunan menjalani hidup secara benar. Salah satu yang mungkin bisa menjadi contohnya adalah tulisan Tao Te Ching yang ditulis oleh Lao Tze sekitar 1000 tahun sebelum Masehi dimana berisi 81 item nasehat dari beliau. 

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa 4:163)

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan ternyata ada tiga kitab yang namanya disebutkan secara eksplisit, yakni Taurat, Injil dan Zabur, dan ada satu lagi yang disebut secara samar yakni Al Furqaan.

Satu hal yang perlu dicatat adalah perlunya kita membedakan antara beriman kepada Al Quran dengan kepada kitab yang lain. Sebelumnya perlu diketahui, apa perbedaan mendasar antara Al Quran dengan kitab lain sebelumnya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 15:9)

Perbedaan utamanya adalah Allah menyatakan akan jaminan keaslian Al Quran, dalam kalimat yang sangat menenangkan hati hambaNya agar tidak ragu sedikit pun akan otentik aslinya, “sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Sementara kitab lain disebutkan telah diubah-ubah oleh umatnya setelah rasul pembawanya lama meninggalkan kaumnya.

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Al Baqarah 2:75)

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (Ali Imran 3:78)

Ciri inilah yang membedakan sikap kita dalam beriman kepada Al Quran versus beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT sebelumnya.

Sebagaimana dijelaskan di dalam Al Baqarah ayat 2 di atas, bahwa salah satu syarat beriman kepada Al Quran adalah dengan menghilangkan rasa keraguan sekecil apa pun mengenai keaslian atau relevansinya.

Mengimani Al Quran adalah menjadikannya sebagai petunjuk hidup, manual book of life, sebagai framework pemikiran yang menjadikan prinsip-prinsip Al Quran sebagai landasan berpikir kita dalam mengambil keputusan, menjalani keseharian di dunia dan mencari bekal akhirat.

Sedangkan mengimani kitab-kitab Allah yang lain adalah kesadaran bahwa pesan kebenaran yang sama juga pernah disampaikan Allah melalui para rasulNya terdahulu sebelum Muhammad SAW namun kita tidak menjadikan isinya sebagai pedoman hidup dan pegangan prinsip seperti Al Quran.

Pada akhirnya kalau kembali kepada konteks ayat ini dalam rangkaian ayat sebelumnya maka kita diharapkan dengan mengimani kitab-kitab terdahulu menjadi salah satu modal kita untuk menjadikan Al Quran sebagai “hudan lil muttaqin”, petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Beriman kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir di sini disampaikan paling akhir setelah rangkaian iman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rezeki, dan beriman kepada kitab terdahulu. Implisit Allah seakan hendak berpesan kepada kita agar semua yang kita lakukan di dunia sebagaimana disebutkan di bagian ayat sebelumnya, haruslah diingat bahwa semua itu akan ditimbang berat amal baik dan buruknya pada hari akhirat.

Kalau dalam bahasa Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People , maka iman kepada akhirat ini adalah pengejawantahan paling tinggi dari kebiasaan kedua, Start with End In Mind, “Mulai dengan akhir dalam pikiran”.  Maknanya adalah dalam setiap apa yang kita lakukan, maka selalu ingat:

  • Bagaimana semua yang dilakukan atau keputusan yang diambil ini akan menambah investasi atau bekal kita di akhirat?
  • Apakah apa yang dilakukan atau yang diputuskan ini memang yang paling memberi return atau imbalan paling besar untuk investasi akhirat kita?

Allah menekankan pentingnya beriman kepada hari akhir ini di banyak ayat lainnya - sebagaimana sudah dibahas pada Surah Al Fatihah ayat 4 sebelumnya.

2: 5

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Maka dikatakan di ayat ini, bahwa siapa pun mereka yang menjadikan Al Quran sebagai petunjuk, dan siapa pun yang bertakwa dengan memiliki ciri-ciri di atas:

  1. Beriman kepada yang ghaib
  2. Mendirikan sholat
  3. Infaq sebagian rezekinya
  4. Beriman kepada kitab Allah
  5. Beriman akan datangnya akhirat

Dijelaskan mereka mendapat dua imbalan, yakni:

  1. Mereka mendapat petunjuk Tuhannya. Mereka akan mudah menerima petunjuk dari Allah. Mereka akan mudah menerima feedback untuk introspeksi thd diri mereka. Mereka akan mudah melihat kesalahan mereka. Mereka akan juga diberikan hati yang mudah gelisah bila melakukan hal-hal yang jauh dari petunjuk Allah
  2. Mereka orang yang beruntung. Beruntung di sini artinya segala sesuatunya dimudahkan. Orang beruntung adalah mereka yang mendapatkan imbalan lebih besar daripada apa yang diusahakan. Dicukupkan rezeki yang dibutuhkan. Dihindarkan dari kehidupan yang berputar-putar dan merusak diri dan keluarga. Juga dihindarkan dari segala yang memberatkan ketika mereka menjadi lemah dan tua.

Dua hal inilah sebenarnya merupakan karunia yang sangat besar, yang menghindari kita tersesat di dunia; sebagai salah satu keutamaan yang dijanjikan Allah SWT bagi orang yang tidak ragu sedikit pun dan menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidupnya.