Al Fatihah 4-6

1: 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan.

Kalau di ayat sebelumnya disebutkan ciri pertama sifat Allah, yakni Ar Rahman dan Ar Rahiim, maka di ayat ini Allah menunjukkan diriNya sebagai Tuhan semesta alam. Yakni dalam bentuk penegasan bahwa Dia tidak hanya menguasai alam seluruhnya melainkan tetap menjadi Dzat yang Maha Kuasa bahkan ketika alam itu berakhir, di hari pembalasan.

Ayat ini juga memberikan harapan keadilan kepada hambaNya untuk berharap melampaui dari umur sang hamba bahkan melampaui usia alam semesta itu sendiri, yakni keadilan di Hari Akhir. Hari dimana akan dibalaskan setiap amal dan dosa. Secara tidak langsung Allah meminta kita untuk tenang karena keadilan akan ditegakkan; kalau tidak di dunia, maka pasti ditegakkan nanti oleh Yang Maha Adil.

Kepercayaan kepada Hari Akhir

Di dalam Al Quran Allah banyak sekali mengaitkan antara keyakinan akan datangnya Hari Akhir, hari dimana semua yang mati dibangkitkan untuk dihisab dengan keimanan seseorang.

Mempercayai akan adanya kehidupan akhirat ternyata menjadi syarat untuk memahami dan menerima kebenaran Al Quran.

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُورًا

Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup (17:45)

Di sini disebutkan adanya suatu dinding yang tertutup, menghalangi antara Al Quran dengan segala makna dan mukjizatnya dari penglihatan dan hati mereka yang tidak meyakini akan adanya hari akhir.

وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya (17:46)

Di ayat ini bahkan dijelaskan bahwa mereka yang tidak mempercayai hari akhir bukan hanya tertutup hati dan pikirannya untuk menerima prinsip yang dijelaskan Al Quran, melainkan menjauhi dan bahkan membenci siapa saja yang menyebut penjelasan mengenai Allah di dalam ayat Al Quran.

Dari ayat-ayat di atas tampak jelaslah bahwa meyakini kehidupan akhirat ternyata dapat menjadi indikator keimanan, dan juga modal utama dalam memahami Al Quran sebagai petunjuk jalan kehidupan.

Mencari Kehidupan Dunia dan Akhirat

Allah menjelaskan kehidupan dunia tidak boleh lebih dicintai daripada kehidupan akhirat.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.(16:107)

Secara implisit, kita diperintahkan bahwa usaha-usaha kita dalam rangka mencapai keberhasilan kehidupan tidak boleh melampaui dari usaha-usaha kita dalam rangka mencari keselamatan akhirat.

Di ayat lain, dijelaskan ancaman Allah akhir kehidupan yang buruk dan tercela terhadap mereka yang hanya mencari kesuksesan dunia.

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (17:18)

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (17:19)

Sementara mereka yang mendahulukan fokusnya pada kehidupan akhirat, bersungguh-sungguh dalam mengusahakannya dan mereka beriman kepada Allah maka dijanjikan akan diberi balasan yang baik.

مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (4:134)

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (11:15)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (11:16)

Di ayat ini Allah menegaskan kembali, siapa saja yang hanya mengharapkan kebaikan, manfaat dan keberhasilan di dunia saja maka ia akan berhasil, pasti bisa mencapainya. Akan tetapi berharap akan dunia saja dan mengabaikan (atau menomorduakan) akhirat akan membawa sang hamba kepada kerugian. Hanya mereka yang mencari kemanfaatan di dunia dan kesuksesan di akhiratlah yang selamat dan dikatakan beruntung.

1: 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Setelah ayat 1–4 sebelumnya membahas profil dan kebesaran Allah, maka ayat 5 ini menjadi jembatan penyambung antara Allah sebagai Tuhan dengan segala sifatNya dengan makhlukNya.

Di sini diberikan ciri utama yang membedakan antara Tuhan dengan makhluk ciptaanNya adalah Tuhan disembah sedangkan hamba meminta pertolongan. Makhluk - termasuk manusia memberi persembahan (pengabdian dan ibadah), sebagai balasannya manusia akan menerima pertolongan dari Sang Khalik. Hubungan menyembah vs meminta tolong ini adalah tema penyambung hubungan manusia dengan Tuhan.

Mulai ayat ini jugalah, tema ayat-ayat selanjutnya berubah dari yang sebelumnya berbicara mengenai ketuhanan dari ayat pertama, dan dimulai dari setelah ayat ini, akan membahas mengenai manusia dan makhluk.

1: 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Inilah doa utama, doa paling pokok seorang hamba. Kalau seorang hamba hanya diberi jatah berdoa satu permohonan maka Allah mengajarkan bahwa dibimbing menuju jalan yang lurus, dibimbing sepanjang hayat tetap berjalan di jalan yang lurus adalah permohonan sapu jagat yang sudah mewakili segenap permohonan lain untuk keselamatan kita di dunia dan keberhasilan kita di akhirat.

Menarik di sini bagaimana Allah menggunakan istilah "jalan yang lurus" sebagai wujud permohonan atau keinginan hambaNya. Jalan lurus di sini mengandung arti jalan yang tersingkat, jalan yang tidak membuat kesia-siaan orang yang mengikutinya. Bukan jalan berputar yang menghabiskan usia dan tenaga dalam menjalaninya. Akan tetapi jalan yang lurus, yang memiliki jalur paling singkat.

Inilah yang menjadi harapan seorang hamba kepada Tuhan selama dia hidup di dunia. Kelengahan seorang manusia akan tuntunan jalan yang lurus ini pula yang menjadi pangkal kegelisahan hatinya di dunia.