Al Fatihah 7

1: 7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Di sini dijelaskan definisi mengenai jalan yang lurus. Terdapat tiga ciri jalan lurus yang dimohonkan di dalam doa utama di ayat sebelumnya:

  1. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang dahulu yang di beri Allah nikmat kepada mereka.
  2. Jalan selain dari yang ditempuh oleh mereka yang dimurkai Allah
  3. Jalan selain dari jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat

Orang Terdahulu yang Diberi Nikmat

Di ayat lain, dijelaskan lebih detail mengenai siapa orang terdahulu yang diberi nikmat oleh Allah SWT:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (19:58)

Ayat di atas menjelaskan bahwa contoh orang terdahulu yang diberi nikmat adalah:

  1. Para nabi dari keturunan Adam
  2. Nabi Nuh dan pengikutnya
  3. Keturunan Ibrahim dan Israil
  4. Orang yang diberi petunjuk oleh Allah
  5. Orang yang dipilih Allah

Dikatakan pula mereka punya ciri khas, yakni bila dibacakan ayat Allah, apabila diingatkan akan kemurahan Allah SWT atas nikmat karuniaNya kepada mereka, segera mereka bersujud menyungkur sembari menangis, mengakui kebenaran ayat Allah dan mensyukuri atas segala nikmat karunia yang telah diberikan Allah SWT kepada mereka.

Mereka yang Dimurkai

…bukan jalan mereka yang dimurkai atasnya…”

Hamka di dalam tafsir Al Azhar menjelaskan sebagai berikut:

Siapakah yang dimurkai Tuhan? Ialah orang yang telah diberi kepadanya petunjuk, telah diutus kepadanya Rasul-rasul telah diturunkan kepadanya kitab-kitab Wahyu, namun dia masih saja memperturutkan hawa nafsunya. Telah ditegur berkali-kali, namun teguran itu, tidak juga diperdulikannya. Dia merasa lebih pintar daripada Allah, Rasul-rasul dicemoohkannya, petunjuk Tuhan diletakkannya ke samping, perdayaan syaitan diperturutkannya.

Allah menjelaskan beberapa perilaku mereka yang dimurkai Allah sbb:

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (3:77)

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (3:78)

Ayat di atas menjelaskan segolongan orang yang memutarbalikkan makna ayat-ayat Allah demi membenarkan pendapat, keinginan dan kepentingan mereka. Mereka dikatakan ingkar bukan karena belum menerima kitab atau belum ada rasul yang diturunkan, melainkan karena hawa nafsu, ego dan keinginan sukses serta terpandang di dunia yang begitu besar sehingga menerjemahkan ayat dan perintah Allah dengan tujuan untuk disesuaikan dengan keinginan mereka.

Di ayat lain, Allah menjelaskan lebih jauh ancaman bagi mereka yang menyembunyikan perintah Allah demi membenarkan keinginan duniawinya:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (2:174)

Prinsip Al Quran sebagai Framework Pemikiran

Al Quran disampaikan kepada kita (generasi akhir zaman) untuk dijadikan sebagai pedoman hidup, guidance dan referensi - baik dalam mengambil keputusan dan juga dalam memahami prinsip-prinsip ilmiah dan budaya. Dengan kata lain, kita diminta untuk menjadikan Al Quran dengan segala nilai dan prinsip-prinsipnya sebagai framework utama dalam memahami segala sesuatu permasalahan yang kita hadapi.

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (Al An’am 6:114)

Ayat di atas menjelaskan bahwasanya Al Quran sudah diturunkan secara lengkap, maksudnya semua prinsip-prinsip pokok yang diperlukan manusia untuk selamat di dunia dan akhirat sudah lengkap dijelaskan di dalamnya.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Al An’am 6:115)

Di ayat selanjutnya ditegaskan kembali bahwa tidak ada satu prinsip penting pun yang tertinggal tidak dibahas di dalam Al Quran, karena kalimat Allah di dalamnya sudah sempurna dan tidak pula ada revisi apa pun terhadap Al Quran hingga hari kiamat.

Kedua ayat di atas ini menjelaskan bahwa semua hal yang kita temui, baik dalam bentuk serapan budaya, penemuan dan teori ilmu pengetahuan, kebiasaan dsb haruslah memiliki dasar prinsipnya di dalam Al Quran - atau dengan kata lain, semua hal yang kita temui harus dipahami dalam framework prinsip-prinsip Al Quran.

Sebagai contoh bila kita melihat konsep-konsep seperti:

  • Konsep pergaulan remaja
  • Konsep pernikahan
  • Konsep pendidikan anak
  • Konsep pemerintahan (Ulil Amri)
  • Konsep ekonomi

Maka akan banyak teori dan penemuan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan yang berkembang utamanya dari Barat - sebagai poros budaya dan ilmu pengetahuan modern.

Maka kita perlu mencari tahu akar dari prinsip-prinsip di atas di dalam Al Quran, untuk kemudian kita adopsi hanya prinsip yang memiliki akarnya di dalam nilai-nilai Al Quran dan sunnah Nabi. Jadi bukan berarti konsep modern dan barat di atas harus ditolak atau diabaikan sama sekali.

Seperti prinsip pendidikan anak yang mengacu pada kisah Luqman yang terdapat pada surah Luqman 31:13–19. Di sinilah Al Quran berfungsi sebagai Al Furqan dan Al Bayan, yang menjadi pembeda dan dasar pengambilan hukum atas segala yang kita hadapi.

Mereka yang menomorduakan prinsip Al Quran inilah salah satu dari yang dimaksud Allah sebagai orang yang dimurkai.

Mereka yang Sesat

…dan bukan jalan mereka yang sesat.” (ujung Ayat 7).

Hamka di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang sesat ialah orang yang dengan berani membuat jalan sendiri di luar yang digariskan Tuhan.

Ada sebuah Hadits yang shahih, dirawikan oleh Abdulah bin Humaid dari ar-Rabbi’ bin Anas, dan riwayat Abdulah bin Humaid juga daripada Mujahid, demikian juga daripada Said bin Jubair dan Hadits lain yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan lain-lain daripada Abdullah bin Syaqiq, daripada Abu Zar, dan dirawikan juga oleh Sufyan bin Uyaynah dalam tafsirnya, daripada Ismail bin Abu Khalid, bahwa seketika orang bertanya kepada Rasulullah tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat. Lalu Rasulullah menjawab:
Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai ialah Yahudi dan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat ialah Nasrani.”

Hadits ini dengan berbagai jalan Asbabul Wurud-nya dan riwayatnya telah tercantum pada kitab-kitab tafsir yang masyhur. Tetapi dia meminta penafsiran kita sekali lagi. Yang wajib kita tekankan perhatian kita ialah kepada sebab-sebab maka Yahudi dikatakan kena murka dan sebab sebab Nasrani tersesat. Perhatian kita jangan hanya ditunjukan kepada Yahudi dan Nasraninya saja, tetapi hendaklah kita tilik sebab mereka kena murka dan sebab mereka tersesat.

Yahudi dimurkai, sebab mereka selalu mengingkari segala petunjuk yang dibawa oleh Rasul mereka, kisah pengingkaran Yahudi itu tersebut di dalam kitab-kitab mereka sendiri sampai sekarang, sehingga Nabi Musa pernah mengatakan bahwa mereka itu “keras tengkuk”, tak mau tunduk, sampai mereka membunuh Nabi-nabi. Sebab itu Allah murka.

Nasrani tersesat, karena sangat cinta kepada Nabi Isa al-Masih, mereka katakan Isa itu anak Allah, bahkan Allah sendiri menjelma menjadi anak, datang ke dunia menebus dosa manusia.

Jadi orang yang tersesat ini berbeda dengan orang yang dimurkai Allah, dalam hal orang yang dimurkai: mereka mengubah-ubah ayat Allah dan menyesuaikan dengan kepentingan mereka. Sedangkan mereka yang tersesat adalah karena mereka mengada-adakan konsep dan praktek agama di luar dari yang dijelaskan di dalam Al Quran dan disampaikan oleh Rasulullah.

Sebagai contoh, menambahkan prinsip Imamiyah sebagai sosok yang menjadi perantara hamba dengan Allah. Juga mengatakan adanya anak dan ruh kudus di samping Allah sebagai pencipta.

Perlu diingat juga bahwa mengada-ada di sini adalah untuk hal yang sifatnya pokok dan prinsip, seperti Tuhan yang satu, sholat sebagai kewajiban, Al Quran sebagai wahyu dari Allah yang terjaga kesuciannya dan Muhammad SAW sebagai rasul Allah terakhir.

Sebagai penutup, marilah kita simak hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah berikut:

Allah telah berfirman, "Aku telah membagi (kandungan makna) Surah Al Fatihah untukKu dan untuk hambaKu menjadi dua bagian, dan Aku akan mengabulkan apa yang hambaKu pinta.

Apabila dia membaca 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam' Allah akan membalasnya dengan berfirman, 'HambaKu telah memujiKu' 

Apabila dia membaca 'Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang' Allah berfirman, 'HambaKu telah memujiKu' 

Apabila dia membaca 'Yang menguasai di Hari Pembalasan'  Allah berfirman, 'HambaKu telah mengagungkanKu' lalu Allah berfirman sekali lagi, 'HambaKu telah memasrahkan urusannya kepadaKu'

Apabila dia membaca, 'Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan' Allah berfirman, 'Ini adalah urusan antara Aku dan hambaKu, dan Aku akan mengabulkan apa yang hambaKu pinta'

Apabila dia membaca, 'Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai Allah dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat' Allah berfirman, 'Ini adalah untuk hambaKu, dan dia akan mendapatkan apa yang dia pinta...'"

(HR Muslim, Abu Dawud, Tarmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah)