Al Baqarah 1-5

2: 1

الم

Alif laam miim.

Alif Laam Miim, adalah pembuka surat. Dijadikan ayat ini sebagai pembuka dengan tujuan menggugah perhatian pembacanya, agar benar-benar menyimak ayat yang dibaca setelahnya. Ayat ini masuk ke dalam kategori ayat mutasyabihat, dan kita cukup menerimanya sebagaimana yang Allah jelaskan sebagai berikut:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran 3:7)

Ayat di atas menjelaskan bagaimana Allah memerintahkan untuk beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat ini karena salah satu ciri mereka yang hatinya condong kepada kesesatan adalah gemar mengulik mencari-cari artinya.

2: 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

Allah memulai dengan pernyataan, bahwa Al Quran yang ada di hadapan kita ini bukan sembarang kitab. Bukan pula kitab yang berisi hipotesis dan asumsi. Melainkan, kitab yang integritasnya dijamin, keasliannya dijamin dan relevansinya dengan kehidupan kita dijamin.

Di penggalan ayat berikutnya, dijelaskan untuk apa semua jaminan itu, yakni untuk dijadikan sebagai “petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Di sini Allah menekankan bahwa peruntukan Al Quran ini adalah untuk mereka yang masuk dalam kategori Muttaqin, Orang yang Bertakwa. Siapa mereka dan definisinya seperti apa dijelaskan di ayat selanjutnya.

2: 3-4

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Orang bertakwa yang mana Al Quran diperuntukkan ini adalah mereka yang memiliki ciri-ciri (sebagian) sebagai berikut:

  1. Mereka beriman kepada yang ghaib
  2. Mereka mendirikan sholat
  3. Mereka menafkahkannya sebagian rezekinya
  4. Mereka beriman kepada kebenaran Al Quran dan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya kepada para rasul
  5. Mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat

Beriman kepada yang Tidak Tampak

Mengapa beriman kepada yang ghaib atau yang tidak tampak ini menjadi yang pertama, bahkan mendahului ciri mendirikan sholat? Tampaknya Allah ingin menjelaskan bahwa sikap hati untuk juga mempercayai yang tidak tampak (di samping keniscayaan percaya pada yang tampak lahiriahnya) adalah bekal pertama yang membuka jalan untuk dapat menjalani ciri orang bertakwa lainnya.

Manusia secara intuisi mudah percaya kepada segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh panca indera. Termasuk di dalamnya, tidak hanya ilmu alam yang berkaitan dengan fenomena alam, tetapi juga ilmu sosial dan ekonomi. Percaya bahwa siapa yang bekerja keras akan berhasil atau siapa yang cerdas berinvestasi akan kaya mendapatkan tempat yang sama tingginya dengan percaya bahwa kertas dibakar akan hangus, atau daun pada tanaman pagi hari akan menghasilkan oksigen.

Beriman yang tidak tampak di sini, Allah hendak menyampaikan pesan, bahwa di samping percaya kepada yang tampak, maka kita pun harus percaya bahwa ada hal-hal yang tidak tampak, yang tidak bisa diraba oleh panca indera, juga bahkan yang tidak bisa diterima oleh akal. Kita diminta menerima ketidakberhinggaan dan di saat yang sama diminta menerima dengan rendah hati akan keterbatasan kita untuk mengetahui dan memahami hal dan fenomena yang sifatnya ghaib kasat mata. Rasa menerima dengan rendah hati inilah yang harus dicamkan di dalam benak kita bila kita ingin mulai berjalan menuju derajat takwa.

Mendirikan Sholat

Ciri kedua setelah percaya kepada yang ghaib adalah mereka mendirikan sholat. Mengapa harus sholat? Sebab di dalam sholatlah kita melatih rasa rendah hati menerima keberadaan yang ghaib melalui gerakan-gerakan fisik. Sholat di sini seakan menjadi latihan fisik yang bertujuan melatih sikap hati untuk tidak hanya fokus kepada yang tampak tetapi juga kepada yang tidak tampak, termasuk hati kita dan keberadaan Allah SWT sebagai Pencipta.

Sholat diperintahkan wajib dikerjakan minimal lima kali sehari. Implisit di sini terkandung pesan bahwa ketertarikan kita akan hal yang bersifat materi akan sangat besar - dan terus bertambah besar seiring berjalannya waktu yang mendekati akhir zaman, sehingga diperlukan latihan fisik dan hati dalam bentuk sholat.

Kalau diperhatikan redaksi Al Quran mengenai sholat hampir selalu dalam bentuk mendirikan bukan mengerjakan. Maksudnya di sini adalah mereka yang mendirikan sholat, yang menunggu-nunggu waktu sholat agar jangan sampai tertinggal atau telat, sebenarnya mereka sudah menanamkan niat untuk mengerjakan sholat di dalam pikiran dan hatinya. Jadi sholat di sini, yang dipentingkan bukan hanya pada saat mengerjakannya, melainkan juga pada sikap hati untuk berjaga-jaga “mendirikan” sholat sesempurna mungkin.

Mendirikan sholat di tengah kesibukan sehari-hari dapat pula dilakukan dengan menjadikan waktu-waktu sholat sebagai tanda waktu bagi berpindahnya kita dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Sebagai contoh, Zuhur adalah waktu batas kita istirahat sekalian makan siang. Waktu maghrib adalah batas waktu meninggalkan kantor atau sekolah / tempat les. Waktu Isya adalah batas waktu kita sudah harus berada di rumah dan bersiap istirahat.

Menafkahkan Sebagian Rezeki

Setelah hati dilatih (iman kepada yang ghaib), dan fisik/pribadi dilatih (mendirikan sholat), maka ciri berikutnya adalah peka terhadap sesama dalam bentuk memberikan donasi. Menariknya di sini Al Quran tidak menggunakan kata ”harta milik kita“, melainkan ”sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka". Kalimat ini memiliki makna sebagai berikut:

  • Rezeki tidak terbatas pada harta. Menafkahkan sebagian rezeki berarti merelakan juga sebagian dari kelapangan atau kelebihan yang bersifat non-finansial, seperti kelapangan waktu kita, kecerdasan pikiran kita, kekuatan fisik kita, kesabaran hati kita bagi kepentingan sosial sesama kita.
  • Rezeki yang ada bukanlah milik kita, melainkan “yang Kami anugerahkan”. Jadi yang kita relakan ini pun sebenarnya bukan berasal dari kita, melainkan dari Allah SWT yang menurunkan ayat ini. Kita seperti kurir yang menyalurkan sebagian rezeki dalam bentuk berbagai kelapangan tadi kepada sesama di sekitar lingkungan kita

Kemudian kepada siapa rezeki ini dinafkahkan? Di ayat lain, dijelaskan siapa yang perlu diutamakan dalam menafkahkan rezeki ini:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (Al Baqarah 2:215)

Kalau melihat urutannya maka menarik diperhatikan bahwa ternyata rezeki ini kita nafkahkan dengan prioritas mengikuti tingkat kedekatan mereka dengan kita:

  1. Ibu, kemudian Bapak
  2. Kaum kerabat
  3. Anak yatim
  4. Orang miskin
  5. Orang yang dalam perjalanan

Di sini kita lihat keindahan prinsip Al Quran dalam Sistem Pengaman Sosial, dimana dijalankan dengan memprioritaskan hubungan darah dan orang yang dekat dengan kita. Perlu pula kita catat, bahwa ini tidak semata-mata hanya yang terkait dengan ekonomi (dimana rezeki tidak melulu soal harta), tetapi juga dalam bidang sosial lain seperti pendidikan, pengadaan rumah sederhana, sistem anak asuh dsb.

Beriman kepada Al Quran dan Kitab Sebelumnya

Allah bukan hanya memerintahkan untuk berpegang kepada Al Quran, tetapi juga meminta kita meng-acknowledge atas kitab lain yang diturunkan kepada para rasul sebelum Muhammad SAW. Al Quran menjelaskan kitab-kitab ini dalam ayat lainnya:

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ

Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, (Ali Imran 3:3)

مِن قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَأَنزَلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ

sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (Ali Imran 3:4)

Di jelaskan bahwa Allah menurunkan Taurat dan Injil sebelum Al Quran dan dipertegas larangan menolak dan mengingkari keberadaannya.

Menarik di sini adalah disebutnya Al Furqaan setelah Taurat dan Injil. Mungkin Al Furqaan di sini mengacu pada kitab lain yang diturunkan Allah pada umat lain namun hanya berbentuk lembaran-lembaran, tidak selengkap seperti bentuk tiga kitab sebelumnya yang utuh. Dinamakan Al Furqaan karena lembaran-lembaran itu memiliki kesamaan isinya yakni sebagai Al Furqaan - pembeda antara perilaku/akhlak yang benar dan salah, dan juga tuntunan menjalani hidup secara benar. Salah satu yang mungkin bisa menjadi contohnya adalah tulisan Tao Te Ching yang ditulis oleh Lao Tze sekitar 1000 tahun sebelum Masehi dimana berisi 81 item nasehat dari beliau. 

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa 4:163)

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan ternyata ada tiga kitab yang namanya disebutkan secara eksplisit, yakni Taurat, Injil dan Zabur, dan ada satu lagi yang disebut secara samar yakni Al Furqaan.

Satu hal yang perlu dicatat adalah perlunya kita membedakan antara beriman kepada Al Quran dengan kepada kitab yang lain. Sebelumnya perlu diketahui, apa perbedaan mendasar antara Al Quran dengan kitab lain sebelumnya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 15:9)

Perbedaan utamanya adalah Allah menyatakan akan jaminan keaslian Al Quran, dalam kalimat yang sangat menenangkan hati hambaNya agar tidak ragu sedikit pun akan otentik aslinya, “sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Sementara kitab lain disebutkan telah diubah-ubah oleh umatnya setelah rasul pembawanya lama meninggalkan kaumnya.

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Al Baqarah 2:75)

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (Ali Imran 3:78)

Ciri inilah yang membedakan sikap kita dalam beriman kepada Al Quran versus beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT sebelumnya.

Sebagaimana dijelaskan di dalam Al Baqarah ayat 2 di atas, bahwa salah satu syarat beriman kepada Al Quran adalah dengan menghilangkan rasa keraguan sekecil apa pun mengenai keaslian atau relevansinya.

Mengimani Al Quran adalah menjadikannya sebagai petunjuk hidup, manual book of life, sebagai framework pemikiran yang menjadikan prinsip-prinsip Al Quran sebagai landasan berpikir kita dalam mengambil keputusan, menjalani keseharian di dunia dan mencari bekal akhirat.

Sedangkan mengimani kitab-kitab Allah yang lain adalah kesadaran bahwa pesan kebenaran yang sama juga pernah disampaikan Allah melalui para rasulNya terdahulu sebelum Muhammad SAW namun kita tidak menjadikan isinya sebagai pedoman hidup dan pegangan prinsip seperti Al Quran.

Pada akhirnya kalau kembali kepada konteks ayat ini dalam rangkaian ayat sebelumnya maka kita diharapkan dengan mengimani kitab-kitab terdahulu menjadi salah satu modal kita untuk menjadikan Al Quran sebagai “hudan lil muttaqin”, petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Beriman kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir di sini disampaikan paling akhir setelah rangkaian iman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rezeki, dan beriman kepada kitab terdahulu. Implisit Allah seakan hendak berpesan kepada kita agar semua yang kita lakukan di dunia sebagaimana disebutkan di bagian ayat sebelumnya, haruslah diingat bahwa semua itu akan ditimbang berat amal baik dan buruknya pada hari akhirat.

Kalau dalam bahasa Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People , maka iman kepada akhirat ini adalah pengejawantahan paling tinggi dari kebiasaan kedua, Start with End In Mind, “Mulai dengan akhir dalam pikiran”.  Maknanya adalah dalam setiap apa yang kita lakukan, maka selalu ingat:

  • Bagaimana semua yang dilakukan atau keputusan yang diambil ini akan menambah investasi atau bekal kita di akhirat?
  • Apakah apa yang dilakukan atau yang diputuskan ini memang yang paling memberi return atau imbalan paling besar untuk investasi akhirat kita?

Allah menekankan pentingnya beriman kepada hari akhir ini di banyak ayat lainnya - sebagaimana sudah dibahas pada Surah Al Fatihah ayat 4 sebelumnya.

2: 5

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Maka dikatakan di ayat ini, bahwa siapa pun mereka yang menjadikan Al Quran sebagai petunjuk, dan siapa pun yang bertakwa dengan memiliki ciri-ciri di atas:

  1. Beriman kepada yang ghaib
  2. Mendirikan sholat
  3. Infaq sebagian rezekinya
  4. Beriman kepada kitab Allah
  5. Beriman akan datangnya akhirat

Dijelaskan mereka mendapat dua imbalan, yakni:

  1. Mereka mendapat petunjuk Tuhannya. Mereka akan mudah menerima petunjuk dari Allah. Mereka akan mudah menerima feedback untuk introspeksi thd diri mereka. Mereka akan mudah melihat kesalahan mereka. Mereka akan juga diberikan hati yang mudah gelisah bila melakukan hal-hal yang jauh dari petunjuk Allah
  2. Mereka orang yang beruntung. Beruntung di sini artinya segala sesuatunya dimudahkan. Orang beruntung adalah mereka yang mendapatkan imbalan lebih besar daripada apa yang diusahakan. Dicukupkan rezeki yang dibutuhkan. Dihindarkan dari kehidupan yang berputar-putar dan merusak diri dan keluarga. Juga dihindarkan dari segala yang memberatkan ketika mereka menjadi lemah dan tua.

Dua hal inilah sebenarnya merupakan karunia yang sangat besar, yang menghindari kita tersesat di dunia; sebagai salah satu keutamaan yang dijanjikan Allah SWT bagi orang yang tidak ragu sedikit pun dan menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidupnya.