Demi Masa

 وَالْعَصْرِ

Demi masa. (103:1)

 إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (103:2)

 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (103:3)

Di ayat di atas, Allah SWT memberi petunjuk bagaimana caranya agar manusia tidak merugi. 

Satu, dengan berbuat amal soleh. Amal kebaikan. Apa saja. Kebaikan bagi sesama manusia atau pun kebaikan dalam bentuk ritual ibadah sehari-hari, seperti sholat, puasa dan zakat.  

Kedua, adalah dengan saling menasihati sesama manusia. Ini jauh lebih berat daripada yang pertama. 

Saling menasihati sebenarnya ada 2 syarat atau Term and Condition-nya:

  1. Tujuan kita menasihati adalah untuk kebenaran; bukan untuk membuktikan siapa yang benar. Artinya kita harus siap menerima dengan lapang dada kalau ternyata kita (pemahaman kita) salah; dan juga tidak takabur kalau yang kita pahami ternyata benar. Intinya tujuan menasihati adalah menyampaikan kebenaran; karena semua kita mencari kebenaran dan tidak ada yang dijamin pasti benar (atau dimakshum) kecuali cuma Rasulullah, itu pun dulu ketika beliau hidup.
  2. Syarat kedua, adalah sabar. Jadi harus siap ditolak, dianggap orang aneh, cupu dlsb. Jangan mudah dibawa ke perasaan, atau menjadi tersinggung hanya karena nasihat/saran kita ditolak / tdk digubris.

Jadi, untuk jalan yang kedua ini, sebelum kita memutuskan untuk menasihati orang lain, mari luruskan niat kita, tujuannya adalah menyampaikan kebenaran (sesuatu yang kita pahami sebagai kebenaran), bukan utk menunjukkan kita lebih tahu agama, atau lebih alim, lebih benar dan lain sebagainya.

Kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT, tetapi di S. Al Ashr ini kita diminta untuk menyampaikan yang kita pahami sebagai kebenaran secara hati-hati dari godaan ego individu.

Kalau melihat perumpamaan manusia merugi di surat ini, maka bagi yang baru mampu mengerjakan yang pertama, tidak apa. Mungkin masih merugi sedikit. Niatkan diri untuk memulai yang kedua, walaupun menurut Allah, hanya yang mampu mengerjakan keduanya lah yang bisa benar-benar terlepas dari kerugian. 

Wallahu a'lam.