Rahmat Tuhanku bukanlah Milikku

Di dalam AQ surah 18 ayat 93-98, diceritakan kisah Dzulkarnain yang membantu suatu kaum untuk membangun dinding pelindung sebagai batas yang menghalangi bangsa yang tidak henti-hentinya mengganggu mereka (bangsa Yakjuj Makjuj).

Dikisahkan akhirnya Dzulkarnain memerintahkan mengumpulkan segala jenis barang logam, dan kemudian semua dicairkan dan dibangunlah dinding besi yang menurut riwayat Hadits hanya akan dapat dilubangi dan runtuh pada saat nanti menjelang hari kiamat.

Menarik apa yang dikatakan Dzulkarnain ketika kaum itu sangat berterima kasih karena telah membantu mereka.

Al Quran menceritakannya di ayat 98:

‎قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Dia (Dzulkarnain) berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar" (18:98)

"Ini adalah rahmat dari Tuhanku." Apa artinya? Mengapa Al Quran menggunakan redaksi seperti di atas? Mengapa tidak menggunakan pilihan kata lain untuk menyampaikan balasan atas terima kasih kaum itu?

Haadza rohmatun min robbi. Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Dzulkarnain mengembalikan prestasi keberhasilannya (membangun dinding) itu sebagai bagian dari rahmat Tuhan. Dijauhkan dari ego dirinya. Dijauhkan dari kesan semua adalah buah hasil kerja kerasnya sendiri atau hasil olah pikirnya sendiri.

Kemudian, penggunaan kata "Tuhanku". Mengapa bukan Tuhan Semesta Alam, atau sebutan Tuhan yang lain? Mengapa disebutnya sebagai "Tuhan-ku"? Di sini, Al Quran sebenarnya hendak berpesan kepada kita, betapa Tuhan adalah sesuatu yang sifatnya sangat personal, satu lawan satu antara hamba dan Khalik. Dalam bahasa sederhana, dia seakan berkata, "Tuhannya sayalah yang menganugerahi keberhasilan itu semua; Tuhan saya yang sangat baiknya kepada saya"

Sikap Dzulkarnain ini adalah pesan Allah kepada kita untuk selalu menjaga hati dari kebanggaan, kesenangan dan pengakuan diri, dan mengembalikan segala kebaikan, dan keberhasilan pencapaian kita kepada Allah SWT.

Di kala kita berhasil menyelesaikan sesuatu, di kala orang banyak bersorak memuji kita, di saat nama kita harum karena jasa dan prestasi kita, ingatlah akan kata-kata Dzulkarnain dalam ayat-Nya, "Qoola, haadza rohmatun min Robbi". Katakanlah, "Ini semua adalah rahmat dari Tuhanku".

Wallahu a'lam.