Berkata Baik atau Diam

Kalau melihat di Facebook atau WhatsApp group atau media sosial lainnya, tampak banyak di antara rekan kita yang berusaha sekuat tenaga menulis posting yang tampaknya membela kebenaran atau berdakwah karena menyampaikan kutipan hadits, video inspirasi dll. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang terlibat emosi atau pun debat kusir. Kita juga lihat, banyak sekali rekan kita yang meneruskan (forward) berita atau pendapat orang lain.

Sebenarnya bagaimana tuntunan Islam dalam menyampaikan pendapat? Bagaimana anjuran Islam dalam mengemukakan pendapat, terutama di media sosial?

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Rasul menganjurkan kita untuk lebih baik diam bila tidak ada yang sesuatu yang baik yang dapat disampaikan. "Baik" di sini maksudnya:

  • Apakah yang akan kita sampaikan bermanfaat bagi yang membacanya?
  • Apakah akan menjadi merusak silaturahmi bila tulisan kita dibaca teman/saudara kita?

‎مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

 Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (50:18)

Di sini Allah mengatakan bahwa setiap apa yang kita ucapkan dan tulis selalu ada malaikat yang mencatat. Tidak hanya yang kita tulis, tetapi juga yang kita teruskan (kutip atau copy-paste).

‎وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya. (17:36)

Ayat ini menambahkan lagi check list sebelum kita menyampaikan sesuatu:

  • Apakah yang akan kita sampaikan sudah pasti benar, sudah kita cross check ke sumber lain?
  • Apakah kita memang menguasai apa yang akan kita sampaikan? Apakah kita siap kalau ditanya lebih lanjut mengenai apa yang disampaikan?

Di dalam salah satu hadits, kita diminta untuk bertanya dahulu, "Apakah kita sudah mengerjakan apa yang mau kita sampaikan?"

"Seseorang didatangkan pada hari kiamat kemudian dilemparkan ke neraka hingga ususnya terburai keluar dan berputar-putar di neraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya, kemudian penduduk neraka bertanya: 'Hai fulan! Apa yang menimpamu, bukankah dulu kau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? ' Ia menjawab: 'Benar, dulu saya memerintahkan kebaikan tapi saya tidak melakukannya dan saya melarang kemungkaran tapi saya melakukannya'." (Hadits Riwayat Muslim, No. 2989)

Hadits di atas menjelaskan jangan sampai kita menyampaikan nasihat (menganjurkan / melarang) sesuatu yang kita sendiri belum mengerjakannya. Mengapa? Kalau dikaitkan dengan ayat 17:36 di atas, maka kita tidak diperbolehkan menyampaikan sesuatu yang kita tidak tahu ilmunya. Sedangkan ilmu baru sempurna bila sudah diamalkan. Mengetahui belum mengamalkan adalah mirip dengan mahasiswa yang baru lulus belum punya pengalaman. Masih pemula, dan masih perlu tambahan pengalaman kerja mempraktikkan ilmunya sebelum dikatakan menguasai ilmunya.

"Saya adalah penjamin di rumah yang ada di sekeliling surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia benar. Dan di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun dia bergurau. Juga di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya." (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani).

Nah, kalau pun kita sudah yakin dengan apa yang disampaikan dan menguasai ilmunya, Rasul menuntun kita untuk segera meninggalkan debat yang berkepanjangan walaupun kita dalam posisi yang benar. Hanya akan sia-sia melayani debat kusir; terlebih di media sosial yang hanya lewat tulisan di mana hati mudah menjadi jauh satu sama lain; sementara hati juga mudah menjadi berbangga diri, menjadi populer karena dibaca oleh teman-teman kita anggota group WhatsApp atau friends di Facebook. 

Kalau memang kita serius, ajaklah dia bertemu, jalin silaturahmi dahulu, pahami latar belakang teman kita itu, sebelum masuk ke topik bahasan yang kita berselisih pendapat.

Check list terakhir adalah memeriksa niat kita. Ini yang diperintahkan Allah sbb:

‎إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (103:3)

Sebagaimana dijelaskan di tulisan sebelumnya, Allah meminta kita memeriksa niat kita sebelum menasihati orang lain:

  • Apakah tujuan kita menyampaikan untuk memenangkan perdebatan?
  • Apakah tujuan kita menyampaikan untuk menjadikan kita tampak (lebih) alim atau (lebih) tahu?
  • Apakah kita mau dengan rendah hati mengakui kalau ternyata pendapat kita yang keliru?

Kalau begitu, apakah berarti kita tidak boleh menasihati orang-orang yang dekat dengan kita? Bukankah kita sama-sama belajar agama dan bukankah baik kalau kita sharing apa yang kita tahu?

Di sini sebenarnya perlu dibedakan, tidak dicampurkan antara menasihati dengan belajar.

Menasihati (menyampaikan nasihat atau taushiyah) sebaiknya hanya hal-hal yang kita sudah amalkan, lebih bagus lagi kalau kita sudah amalkan secara rutin konsisten. Lebih baik lagi, kalau kita sudah kuasai dan dalami sehingga siap bila ditanya lebih jauh.

Sedangkan kalau tujuan kita belajar, maka biasanya ada forum khusus, ada yang berperan sebagai guru, ada pesertanya, dan masing-masing mengerjakan PR-nya.  Peserta bertanya mengenai pemahaman dia setelah membaca buku yang terkait dengan topik bahasan, dan guru menjelaskan, atau peserta lain memberikan pendapat pemahamannya. Sang guru kemudian memberikan penjelasan akhir, meluruskan dan menyimpulkan. Semua asli, tidak copy-paste, kecuali sedikit materi seperti ayat Al Quran dan Hadits yang di copy-paste.

Jadi sebenarnya Islam menuntun kita untuk sangat berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, termasuk menulis atau mengutip berita di media sosial. Tidak hanya itu, bahkan untuk hal yang sifatnya nasihat pun, kita diminta untuk berhati-hati dalam menyampaikan.

Marilah kita lebih berhati-hati karena setiap tulisan, kutipan, ucapan, bahkan desiran hati akan selalu dicatat oleh malaikat Raqib dan 'Atid yang selalu mendampingi kita dan akan dimintakan pertanggungjawabannya di hari akhir nanti.

Sebagai penutup, marilah kita sama-sama renungkan kembali firman-Nya di ayat berikut: 

 اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (39:23)

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.  

Wallahu a'lam.