Sederhana dalam Berjalan

Al Quran menyebut secara khusus mengenai adab bagaimana kita berjalan. Istilah berjalan di sini tentunya termasuk juga mengendarai kendaraan, baik itu motor, mobil atau jenis kendaraan lainnya.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (31:18-19)

Di ayat ini, dikatakan, bahwa ciri orang yang sombong yang tampak dari penampilan luarnya adalah sbb:

  • Raut muka, yang merendahkan atau berpaling tidak mau melihat / menganggap kepada orang yang dianggap lebih rendah
  • Cara berjalan atau sikap dalam mengendarai kendaraan. Contohnya, cara berjalan yang ingin dipandang tinggi oleh orang lain. Atau, mengemudikan mobil atau motor ingin dipandang lebih (lebih berani, lebih mampu, lebih kompak, dlsb) oleh orang lain. Allah menekankan khusus untuk cara berjalan ini dengan menyebut dua kali di ayat 18 dan 19
  • Nada intonasi suara dalam berbicara.

لَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (17:37)

Di ayat di atas, Allah kembali mengulang larangan berjalan dengan sombong. Disebutkan pula, bahwa secerdas apa pun, setinggi apa pun keilmuan manusia, dan sampai kapan pun, manusia tidak akan pernah bisa menembus bumi dan tidak akan pernah bisa pula memiliki postur dengan tinggi menyamai tingginya gunung.

Bila ditafsirkan secara bebas, di ayat di atas sebenarnya tersirat Allah memberitahu terapi penyembuhan bagi mereka yang sombong. Yakni, dengan diajak jalan mendaki menjelajahi gunung, atau dengan mencoba ikut masuk ke dalam pertambangan yang masuk jauh di bawah tanah.

Jadi mari kita ingat kedua surah di atas, pada saat kita sedang mengendarai motor di tengah mereka yang tidak punya motor; atau mengendarai mobil di tengah mereka yang tidak berkendaraan, atau juga saat sedang konvoi mengendarai mobil atau motor beramai-ramai sehingga membuat macet, polusi atau berisik lingkungan sekitar.

Juga, ada baiknya sekali-kali kita ikut kegiatan mendaki gunung, olahraga terbang layang, menyelam atau bila memungkinkan mengunjungi area pertambangan. Siapa tahu itu dapat menguatkan hati kita untuk selalu sederhana dalam berjalan.

Wallahu a'lam.