Tidak Berputus Asa dari Rahmat dan Ampunan-Nya

Manusia, kita semua, tidak ada yang bebas dari kesalahan. Bahkan dalam salah satu hadits, dikatakan, manusia di akhir zaman, banyak yang pagi masih beriman namun terjerumus dalam kekufuran di sore hari, dan juga sebaliknya.

Taubatnya Orang yang Melampaui Batas

Apa pun yang terjadi, sebesar apa pun dosa, maksiat, dan khilaf kita, berapa pun seringnya kita lakukan, Allah melarang kita untuk berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya.

 قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (39:53)

Allah bertutur khusus kepada hamba-Nya yang melampaui batas. Di ayat ini dijelaskan, bahkan kepada mereka yang melakukan dosa besar pun (Al Quran menggunakan kata melampaui batas biasanya untuk dosa besar seperti syirik, pembunuhan dan zina) tetap terbuka pintu ampunan. Bahkan ditegaskan, bahwa Allah mengampuni dosa semuanya karena sangat sayangnya Dia kepada hamba-Nya. Kemudian di ayat berikutnya, mereka diminta untuk segera bertaubat, tidak menunda-nunda sebelum datangnya azab musibah yang tidak bisa dielakkan (yakni sakaratul maut dan kiamat).

 وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

 Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (39:54)

Al Quran menggambarkan beberapa kisah umat terdahulu serta bagaimana mereka diperintahkan bertaubat sbb:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّـهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya). (11:61)

Melihat ayat di atas, tampak betapa kasih sayang Allah mendahului dari siksa-Nya. Bagi orang kafir yang mau bertaubat saja, disebut Al Quran, bahwa Tuhan amat dekat rahmat-Nya dan lagi memperkenankan doa, apalah lagi orang yang on-off – sekali waktu jauh dari Allah, sekali waktu mendekati-Nya.

 وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (3:133)

Masih dengan nada yang sama, Allah dengan Rahman Rahim-Nya mengajak kita untuk bersegera, tidak menunda-nunda bermohon ampunan-Nya. Digambarkan juga surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang menjadi sebaik-baiknya tempat kembali setelah hidup di dunia.

Taubatnya Orang Beriman yang Berbuat Dosa

Selanjutnya, bagaimana dengan orang yang sebelumnya taat tetapi karena sesuatu sebab dia terjerumus ke dalam dosa?

Allah menyapa mereka ini dengan kata-kata yang sangat menenteramkan hati di dalam ayat berikut:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّـهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (57:16)

Di sini, tersirat Allah seperti dengan sabar menunggu, kapankah hamba-Nya yang (dulunya) beriman untuk kembali tunduk mengingat-Nya kembali, taat kepada-Nya kembali. Setelah itu, dilanjutkan dengan ajakan, jangan sampai kelamaan waktu menunggunya, sebagaimana orang-orang dulu yang pernah seperti ini, saking lamanya, hingga akhirnya hati mereka terlanjur menjadi keras.

Masih mengenai orang yang terjerumus dalam kesalahan, di dalam Al Quran, diceritakan juga bagaimana perasaan menyesal tiga orang sahabat Rasul SAW, yang melanggar karena tidak ikut berperang pada masa Rasulullah.

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ اللَّـهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّـهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (9:118)

Inilah gambaran rasa hati yang pernah mengenal Allah dan merindu akan kembali dekat kepada-Nya tetapi tidak tahu harus bagaimana dan kemana. Dunia akan terasa sempit, dada pun terasa sesak. Kemana mata memandang segalanya tampak sempit dan menghimpit. Diri yang merasa kepentok kesana kemari sebab menyadari bahwa tidak tempat untuk melarikan diri dari siksa Allah, kecuali menghadapkan wajah kembali kepada-Nya.

Seakan hati ingin menjerit, "Ah ya Allah, sungguh berat hati ini menderita akan kerinduan akan taubat kepada-Mu. Kuatkanlah badan ini, kuatkanlah jiwa ini, terangkanlah pikiran ini, lapangkanlah hati ini untuk mau bertaubat, mau kembali mengetuk pintu rumah-Mu dengan taat kembali kepada-Mu"

Kemudian, di ayat lain, Allah memberi tahu, resep formula, bagaimana seharusnya bertaubat:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَـٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّـهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (25:70)

Inilah ‘how-to’ bagaimana cara bertaubat, kembali mendekat kepada Allah:

  1. Bertaubat, bermohon ampun, mengakui kesalahan dan tidak melakukannya lagi
  2. Beriman, menguatkan tauhid, meninggalkan segala kemusyrikan, segala tuhan-tuhan tandingan yang lebih ditakuti daripada Allah SWT
  3. Mengerjakan amal saleh – melakukan amal ‘penebus’ kesalahannya/kejahatannya itu.

Bagi siapa saja yang melakukan ketiga hal tersebut, maka dijanjikan - tidak hanya dihapuskan kesalahannya, akan tetapi digantikan kejahatan (kesalahan) kita semua dengan kebajikan. Janji ini disambung dengan penegasan, bahwa Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Artinya, ampunan-Nya dan Maha Penyayang-Nya jauh melampaui dan melingkupi sebesar apa pun dosa yang kita lakukan.

Taubatnya Nabi Ibrahim a.s. dan Ismail a.s.

Menarik juga bila melihat bahwa taubat ternyata tidak selalu dilekatkan pada orang yang jauh dari agama, atau yang berbuat dosa. Taubat ternyata juga dimohonkan oleh Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai bapak para Rasul dalam doa bersama puteranya, Ismail, sesaat setelah selesai mendirikan Ka'bah.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (2:128)

Akhir Kata

Jadi, janganlah kita pernah berputus-asa dari mendekat kepada Allah. Tidak ada kata terlambat atau malu untuk mengetuk pintu-Nya mengakui dosa, bermohon ampunan-Nya dan memulai kembali lembaran baru. Tidak ada satu manusia pun yang luput dari kesalahan. Bahkan Nabi Ibrahim pun juga bertaubat. Juga, tidak ada kata terlanjur banyak dosa, terlanjur basah, terlanjur kelamaan, sehingga menjauhkan kita dari keinginan bermohon ampun. Pintu ampunan-Nya selalu terbuka hingga sakaratul maut atau terjadinya kiamat. Namun demikian, jangan juga menunggu terlalu lama, dinanti-nanti, menunggu hingga usia lanjut, nanti-nanti saja karena masih muda, masih sehat, masih diberi kecukupan hidup. Kita tidak tahu kapan akan dipanggil-Nya.

Setelah bertaubat, ingat juga akan how-to, resep dua langkah pengiring taubat, yakni segera kuatkan ketauhidan hanya kepada Allah dan lakukan sebanyak mungkin amal soleh sebagaimana dijelaskan di atas. 

Semoga kita diberikan hidayah-Nya untuk terus bermohon ampunan kepada Allah SWT. Amiin.

Wallahu a'lam.