Orangtua dan Tauhid

Di dalam Al Quran, Allah menyebutkan perintah berbakti kepada orangtua didampingkan setelah perintah ketauhidan, mengesakan Allah, tidak menyekutukan Allah. Mengingat dosa terbesar adalah musyrik, menyekutukan Allah dengan zat/hal lain, maka patutlah kita melihat, ada apa dan mengapa begitu pentingnya sikap berbakti kepada orangtua sehingga didampingkan bersama larangan menyekutukan Allah.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (17:23)

Di ayat 23 di atas, diperintahkan pertama kali adalah mentauhidkan Dia sebelum kita berbuat baik kepada orangtua. Di sini, tersirat sebenarnya, bahwa apa yang harus kita ingat selama kita berbuat baik kepada orangtua adalah bahwa apa yang kita sedang lakukan ini adalah dalam kerangka penghambaan diri kita kepada Allah. Perhatikan kata "sebaik-baiknya". Jadi bukan sembarang asal berbuat baik, melainkan berbuat baik dengan sebaik-baiknya.

Kemudian Allah memberi tekanan pada kasus kalau orangtua tersebut telah beranjak usia lanjut. Batasan yang dilarang di sini, adalah megucapkan "ah", yang biasa terucap bila kita tidak menganggap omongan itu sebagai sesuatu yang layak didengar, atau juga ungkapan kemalasan dan kejengkelan atas sikap seseorang.

Setelah itu, Allah mengatakan, bahwa kalaupun kita misalnya sudah tidak berucap "ah", maka dalam berucap pun, kita tidak boleh bernada seakan membentak. Perhatikan pula, bahwa membentak di sini, adalah dalam kerangka "membentak mereka", artinya, adalah dikatakan membentak bila nada kita mereka tangkap sebagai nada membentak.

Setelah tidak membentak / menghardik pun, Allah masih menekankan, bahwa pada saat kita berbicara, bicaralah dengan ucap-ucap yang mulia (qaolan kariima). Di sini, mulia bermakna sama denga suci, keluar dari hati yang ikhlas dan penuh kesabaran.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (17:24)

Pada ayat berikutnya, kita diperintahkan, untuk selalu menjaga posisi diri kita tetap terlihat rendah di hadapan mereka. Tidak mentang-mentang. Tidak minteri, terlebih karena cara pandang mereka yang kuno atau sudah melemahnya ingatan dan pendengaran / penglihatan mereka.

Caranya bagaimana? Di kalimat berikutnya: "dengan penuh kasih sayang", yakni kita rendahkan diri kita karena rasa sayang kita kepada mereka. "Apalah yang akan mereka cari. Toh, mereka sekarang sudah lanjut usia. Mari, sini, biarlah saya yang akan merawatnya hingga kewafatannya."

Kalau cara ini belum ampuh, maka dianjurkan kita sertai dengan cara berikutnya, yakni mendoakan mereka. Di sini, Allah sudah memberi indikasi, bahwa berbuat demikian tidaklah mudah, sedemikian hingga kita dianjurkan untuk mendoakan mereka dengan doa yang meminta Allah mengasihi mereka setidaknya sama dengan bagaimana mereka berdua mengasihi kita sewaktu kecil. Doa ini adalah doa minimal seorang anak kepada orangtuanya sebab sangat sulitnya dia mengurus orangtuanya.

رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ ۚ إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (17:25)

Maka pada rangkaian ayat terakhir ini, ditegaskanlah oleh Allah. Bahwasanya, apa yang kita simpan di dalam hati, adalah pasti akan diketahui oleh Allah swt. Dia akan pula mengetahui, kejengkelan-kejengkelan kita terhadap tingkah laku orangtua kita yang seringkali harus banyak dimaklumi. Karena itulah, di kalimat berikutnya, dikatakan, "Jika kamu orang-orang yang baik/salih (solihuun), maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat." Artinya, Allah akan memaklumi perasaan-perasaan jengkel itu. Allah akan mengampuni dosa-dosa yang terlakukan sebab keterbatasan kita sebagai manusia, selama kita memang tetap menjaga kesalihan kita, yakni dengan selalu bertaubat kepada-Nya dan menjaga lurusnya niat untuk beribadah kepada-Nya.

Wallahu a'lam.