Masuk Surga Sekeluarga

Allah mewajibkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga mereka dari api neraka. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (66:6)

Di ayat di atas, jelas sekali dikatakan, tidak cukup kita sendirian masuk surga (selamat dari api neraka), melainkan kita diwajibkan untuk juga mengajak keluarga untuk sama-sama masuk surga.

Bagaimana caranya membawa keluarga masuk bersama-sama ke dalam surga? Mari kita lihat dulu dari bagaimana Allah mengajarkan kita mendidik anak-anak kita. 

Di bawah ini adalah konsep pendidikan anak yang dijelaskan dalam kisah Luqman mendidik anaknya sebagai berikut:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (31:13)

Pelajaran pertama, adalah larangan untuk mempersekutukan Allah. Dosa ini disebut dosa yang amat besar.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (31:14)

Pelajaran kedua, adalah menghormati ibu bapak. Terutama ibu yang sudah mengandung dan menyusui - selama hampir 3 tahun. Kemudian di paruh ayat berikutnya, kita diminta untuk mengajarkan berterima kasih (mensyukuri) jasa orangtua setelah mensyukuri Allah. Menarik di sini, kalau kita perhatikan, bahwa perintah berterima kasih kepada orangtua diletakkan bersandingan setelah perintah bersyukur kepada Allah. Seakan Allah hendak berkata, bahwa sikap hormat kita kepada orangtua adalah salah satu amalan utama untuk bersyukur kepada-Nya.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (31:15)

Pelajaran ketiga, adalah memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya, bahkan walaupun harus menolak ketika mereka mengajak kepada kemusyrikan.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (31:16)

Pelajaran keempat, adalah menanamkan kepercayaan bahwa Allah Maha Halus yang mengetahui segala yang ada di bumi dan langit, akan memperhitungkan bahkan sebiji sawi kebajikan dan keburukan hamba-Nya.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (31:17)

Pelajaran kelima, adalah mendirikan sholat, menegakkan sholat dikerjakan pada waktu-waktunya.

Pelajaran keenam, adalah kewajiban menganjurkan perbuatan baik dan mencegah perbuatan jahat (amar ma'ruf nahi munkar) dengan sabar.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (31:18)

Pelajaran ketujuh adalah akhlak kepada sesama manusia, rendah hati dan tidak berjalan dengan sombong dan berbangga hati.

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (31:19)

Adapun pelajaran kedelapan adalah masih terkait akhlak, yakni sederhana dalam berjalan dan merendahkan suara dalam berbicara.

Kalau disimpulkan, maka inilah delapan hal utama yang harus kita prioritaskan untuk diajarkan kepada anak-anak:

  1. Ketauhidan. Tidak mempersekutukan Allah (musyrik). Musyrik adalah dosa terbesar.
  2. Menghormati orangtua, terutama Ibu. Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih (mensyukuri) jasa orangtua.
  3. Memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya.
  4. Keyakinan bahwa Allah Maha Halus yang memperhitungkan sekecil apa pun amal perbuatan kita.
  5. Mendirikan sholat. Mengerjakan sholat dengan khusyu' dan tepat pada waktu-waktunya.
  6. Menganjurkan perbuatan baik dan mencegah perbuatan buruk (amar ma'ruf nahi munkar).
  7. Rendah hati dan tidak sombong serta berbangga hati terhadap sesama.
  8. Sederhana dalam berjalan dan merendahkan suara dalam berbicara.

Untuk caranya, diserahkan kepada kita dan disesuaikan dengan lingkungan, budaya dan zaman serta lingkungan masyarakat kita masing-masing. 

Wallahu a'lam.