Tiga Amal Utama

Ada ayat yang menarik perhatian di Surat Al Fatir (35) di bawah:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّـهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (35:32)

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

(Bagi mereka) surga 'Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera. (35:33)

Siapa yang dimaksud "orang-orang" di ayat di atas atau "mereka" di ayat 33? Mereka ini disebutkan diwariskan kitab, tetapi kemudian disebut mereka ingkar dan kemudian bertaubat, dan masuk surga. Pertanyaanya, siapa mereka?

Sebenarnya ini termasuk ayat mutasyabihat. Tapi ada makna di baliknya. Kalau dilihat asbabun nuzul nya pun ternyata juga tidak ada penjelasan yang spesifik.

Mundur sedikit ke ayat 29, karena tampak pokok bahasannya dimulai dari ayat ini.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّـهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (35:29)

Di ayat ini, yang dimaksud dengan "orang-orang" atau "mereka" adalah mereka yang:

  1. Membaca kitab Allah
  2. Mendirikan sholat (bukan hanya mengerjakan)
  3. Menginfakkan, mendonasikan sebagian hartanya

Implisit Allah mengatakan, bahwa siapa saja yang melakukan 3 hal di atas sebenarnya melakukan perniagaan dengan imbal hasil yang selalu untung (tidak akan pernah merugi).

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (35:30)

Di ayat selanjutnya ini diberitahu apa saja balasan kepada mereka. Kalau dilihat, Allah menyatakan, bukan hanya mereka diberi pahala, tetapi disempurnakan pahalanya. Artinya, kalau pun amal yang dilakukan masih belum sempurna, belum konsisten, masih ada ingin dilihat orang atau dipuji orang, oleh Allah dikatakan, sepanjang kita mau berusaha melakukan tiga hal di atas, maka pahalanya digenapkan, disempurnakan. Atau dengan kata lain, diberi lebih daripada yang seharusnya hak pahala dari amal kita.

Tidak cukup sampai di situ, balasan lainnya adalah ditambahkan karunia-Nya kepada kita, melebihi dari jatah yang sudah tertulis dari sebelum kita lahir.

Inilah mengapa di akhir ayat, dikatakan Allah Maha Pengampun (karena menyempurnakan pahala amal kita dengan mengampuni kesalahan-kesalahan kecil di atas) dan Maha Mensyukuri (karena dengan segera menggenapkan pahala atas amal kita yang masih bolong-bolong dan menambah karunia kepada kita).

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (35:31)

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّـهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (35:32)

Di kedua ayat di atas kita lihat ada perbedaan redaksi antara "wahyu" (ayat 31) dan "waris" (ayat 32). Selengkapnya redaksi di ayat 31 adalah "Kami wahyukan kepadamu" sementara di ayat 32 redaksinya adalah "Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami"

Ayat 31 berbicara mengenai Rasul SAW yang menerima kitab Al Quran dalam bentuk wahyu, yang isinya membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

Sedangkan "waris" di ayat 32 berbicara mengenai orang-orang yang melakukan tiga hal di ayat 29-30 di atas. Apa bedanya diwahyukan dengan diwariskan? Kalau diwahyukan, si orang tsb (yakni Rasulullah) ada komunikasi, hubungan langsung dg yang memberi wahyu (yakni Allah). Sementara mewariskan, barang yang diwariskan harus selalu dijaga dan sudah ada stempel dari pemilik pertamanya. Kalau dalam konteks ini, artinya mereka yang melakukan tiga hal tersebut ada diberi pengetahuan mengenai apa makna Al Quran tetapi tidak boleh sembarangan mengaku dia diberi pengertian ini-itu karena apa pun pemahamannya harus dikembalikan ke si pemilik pertama (yakni Rasul melalui hadits-nya). Contohnya, adalah pemahaman sholat, harus dikembalikan kepada hadits, bagaimana mengamalkan sholat dengan sempurna. Juga membaca Al Quran dan infaq, berpedoman bagaimana tuntunan Nabi SAW dalam mengamalkannya.

Nah di ayat 32, dikatakan, walaupun mereka itu ada yang bandel, ada yang alim, tetap dikatakan bahwa mereka mendapat karunia yang amat besar. Mengapa? Karena diberi bisa membaca firman-Nya dan menerjemahkannya ke kehidupan sehari-hari. Karena menerangi masyarakat, menjadikan seakan-akan Rasul kembali hidup di tengah masyarakat.

Di ayat berikutnya, dijelaskan bagaimana keadaan mereka di akhirat, sebagai berikut:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ ﴿٣٣﴾ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ ﴿٣٤﴾ الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ ﴿٣٥﴾

(Bagi mereka) surga 'Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu." (35:33-35)

Menarik di sini, sudah masuk surga pun, mereka masih teringat akan susahnya ujian kehidupan di dunia. Maka mereka pun berdoa, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami." Juga, kembali digambarkan betapa bersyukurnya mereka; Allah Maha Pengampun - karena mengampuni kesalahan kecil dalam beramal; serta Allah Maha Mensyukuri - karena balasan yang lebih besar daripada balasan seharusnya amal mereka.

Wallahu a'lam.