Perumpamaan Ruh dan Jasad

Hubungan ruh dan jasad pada manusia adalah seperti hubungan seorang laki-laki yang pintar di negeri asing yang mencintai seorang wanita ayu yang bodoh, nakal, dan rusak budi pekertinya. Wanita ini setiap saat meminta makanan yang enak, minuman yang lezat, pakaian yang indah, perhiasan yang mahal, serta rumah tempat tinggal yang besar dan mewah, juga permintaan lainnya yang banyak sekali macamnya. 

Karena cintanya, laki-laki itu berusaha siang dan malam membanting tulang untuk mendapatkan segala yang dibutuhkan oleh wanita yang dicintainya sehingga laki-laki itu lupa akan dirinya sendiri, lupa akan kampung halaman tempat asalnya, lupa akan orangtua dan kerabatnya.  

Laki-laki itu tidak akan mungkin dapat merasa senang dan bahagia selama dia menaruh cinta dan selalu direpotkan oleh wanita nakal itu dengan berbagai kebutuhan yang berlebih-lebihan itu. Kebahagiaan laki-laki itu adalah apabila ia menceraikan wanita yang nakal dan tak berbudi itu.  

Begitu juga ruh, tidak mungkin dapat merasa senang dan bahagia selama direpotkan oleh jasmani dengan segala tuntutan yang berleih-lebihan itu. Kesenangan dan kebahagiaannya adalah apabila ruh itu telah berpisah dengan jasad dan tidak lagi mencintai jasad itu. 

Mati berarti bebasnya ruh dari segala tuntutan dan kebutuhan jasmani, bebas merdeka kembali ke alam tinggi ke tempat asalnya menemui Allah Al-Khaliq.  

Karena kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan-tuntutan jasmani yang tidak dikekang dan tidak dibatasi, maka banyak manusia menjadi lupa akan kemuliaan diri dan lupa akan Allah yang telah menciptakan dirinya. Apabila diperingatkan mengenai kelalaian dan kelupaan ini, maka tidak mau sadar karena sudah tenggelam di dalam arus tuntutan dan jasmani atau dunianya.  

Firman Allah SWT di dalam Al Quran berikut: 

وَإِذَا ذُكِّرُوا لَا يَذْكُرُونَ

 Dan apabila mereka diberi pelajaran mereka tiada mengingatnya. (37:13)

 وَإِذَا رَأَوْا آيَةً يَسْتَسْخِرُونَ

 Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda kebesaran Allah, mereka sangat menghinakan. (37:14)

Menyadari diri atas kelalaian dan kelengahan yang sempurna ini, juga mengontrol nafsu dari berbagai syahwat dan keinginan jasmani yang berlebih-lebihan merupakan pedoman utama dalam hidup di dunia ini.  

Sumber tulisan disadur dari Hidup Sesudah Mati, oleh Bey Arifin.  

Catatan: perumpamaan perempuan dan laki-laki hanya sebagai ilustrasi saja, tanpa bermaksud sama sekali merendahkan peremuan di bawah laki-laki.