Summary ODOP 6:143-153

Kaum Jahiliah yang Menetapkan Hukum tanpa Ayat dan Ilmu

144. dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Masih terkait dg ayat 138-139 sebelumnya, Allah kembali menyinggung kaum Jahiliyah yang menetapkan haram-halal hewan dengan hanya berdasarkan persangkaan mereka dan apa yang dikatakan oleh orangtua / nenek moyang mereka terdahulu.

Allah menegur kaum Jahiliah ini dengan menanyakan, apakah ada Allah menurunkan ayat-ayat mengenai ketentuan haramnya hewan yang mereka katakan. Kemudian dg teguran berikutnya, apakah mereka memiliki pengetahuan atas dasar apa mereka mengharamkan hewan tsb. Teguran ini diulangi kembali di ayat 144, “Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini (menurunkan ayat-ayatNya) bagimu” dan “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta thd Allah utk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?”

Hewan yang Haram Dimakan

145. Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Allah kemudian menerangkan apa yang sebenarnya diharamkan sesuai dg ketentuanNya (145):

  1. Bangkai, darah dan daging babi -> diharamkan krn sifatnya yang kotor
  2. Hewan yang disembelih atas nama selain Allah

Kita dibolehkan memakan yang haram ini dg syarat:

  1. Dalam kedaan terpaksa, bukan krn ingin, yang bila tidak makan akan mengancam keselamatan jiwa

  2. Kalau pun terpaksa memakannya, maka tidak melampaui batas, memakannya sekedar cukup untuk bertahan hidup saja

Allah menerangkan hal yang sama di ayat lain sbb:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Baqarah 2:173)

146. Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.

Ayat 146 menjelaskan pengharaman tambahan, khusus bagi kaum Yahudi, sbg sanksi atas kedurhakaan mereka (hewan berkuku dan lemak), sbgmn disebutkan di ayat lain:

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah (An Nisaa 4:160)

147. Maka jika mereka mendustakan kamu, katakanlah: "Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa."

Kemudian Allah menegaskan bhw rahmat karuniaNya sangatlah luas, masih jauh lebih banyak makanan yang halal dibandingkan yang diharamkan, sedangkan bagi yang memilih tetap ingkar diancam dg siksa yang pasti dan tidak dapat ditolak kedatangannya. (147).

148. Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

149. Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya."

150. Katakanlah: "Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini" Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka.

Ayat selanjutnya menjelaskan argumen kaum Jahiliah atas ingkarnya mereka. Dikatakan, kalau memang Allah Maha Kuasa, mengapa Dia tdk menjadikan saja mereka beriman, shg mereka tdk menjadi musyrik dan juga tdk mengharamkan tanpa dalil spt di ayat sebelumnya. Allah kemudian menerangkan, bhw argumen mereka ini dibuat2 dan tidak ada dasarnya (148). Hal ini karena datangnya hidayah Allah haruslah dimulai dari sikap melapangkan dada, membuka pikiran, dan meluruskan hati shg kemudian Allah menurunkan cahaya yang menerangi yang membimbing dia untuk mendalami lebih jauh hidayah petunjuk yang diterimanya hingga tumbuhlah ketaatan atas segala perintah dan larangan Allah SWT (refer ke bahasan ODOP 6:104-117 sebelumnya mengenai “Jika Allah menghendaki” ). Allah pasti memberi petunjuk kpd semua hambaNya yang memenuhi syarat sebabnya turun hidayah ini (149).

Beberapa Larangan dan Perintah Allah

151. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

152. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

Di ayat 151-152, Allah menjelaskan bbrp hal yang diharamkan dan diwajibkan sbg kontras atas hukum yang dibuat2 oleh kaum Jahiliah sebelumnya, yakni:

  • Jangan mempersekutukan Allah
  • Wajib berbuat baik kpd kedua orangtua
  • Jangan membunuh anak2 karena takut miskin, karena rezeki mereka sudah dijamin oleh Allah
  • Jangan mendekati perbuatan keji (dosa yang terkait dg nafsu seksual - spt zina) - baik terang2an maupun sembunyi2
  • Jangan membunuh siapa pun kecuali dg alasan yang diperbolehkan (spt dlm peperangan dan eksekusi hukum qishash/rajam)
  • Jangan menyalahgunakan harta anak yatim
  • Wajib menyempurnakan takaran dan timbangan
  • Wajib berlaku adil, walaupun thd kerabat saudara sendiri

153. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Ayat 153 menutup dg penegasan, bahwa larangan dan perintah yang disebut di atas itu lah jalan yang lurus, terang dan jelas dari Allah SWT. Kita diperintahkan mengikutinya agar kita menjadi orang yang bertakwa, yang tetap dalam ketaatan kpd Allah SWT.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.